Pajak Penghasilan (PPh) Badan adalah pajak yang dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Badan dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap (BUT) dari kegiatan usaha maupun di luar usaha dalam satu tahun pajak.
Sistem perpajakan Indonesia menganut prinsip self-assessment: WP menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri kewajiban pajaknya.
Yang termasuk Wajib Pajak Badan dalam negeri:
- Perseroan Terbatas (PT) dan PT Terbuka (Tbk)
- Commanditaire Vennootschap (CV) dan Firma
- Koperasi dan Yayasan
- BUMN, BUMD, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)
- Lembaga dan badan usaha lainnya yang tidak dikecualikan
Badan luar negeri yang beroperasi di Indonesia wajib mendirikan Bentuk Usaha Tetap (BUT) dan diperlakukan sebagai WP Badan tersendiri.
- Tahun pajak umumnya sama dengan tahun kalender (1 Jan – 31 Des)
- WP dapat menggunakan tahun buku berbeda (misal April–Maret) dengan persetujuan DJP
- WP Badan wajib menyelenggarakan pembukuan — tidak dapat menggunakan Norma Penghitungan seperti WP OP
- Bahasa pembukuan: Indonesia; mata uang: Rupiah (atau USD dengan izin Menkeu)
- Dokumen wajib disimpan minimal 10 tahun
Berlaku untuk PT, CV, Firma, Koperasi, Yayasan, BUMN, BUMD, BUMDes, dan semua badan dalam negeri yang tidak memenuhi syarat tarif khusus. Pajak dihitung atas PKP (Penghasilan Kena Pajak) setelah koreksi fiskal.
- Wajib lapor SPT Tahunan Badan (Formulir 1771) paling lambat 30 April
- Wajib membayar angsuran PPh Pasal 25 setiap bulan paling lambat tanggal 15
- Melunasi PPh Pasal 29 (kurang bayar) sebelum SPT disampaikan
- Melakukan rekonsiliasi fiskal atas laporan keuangan komersial
⚠ Perhatian: Jika kepemilikan publik turun di bawah 40% di satu titik dalam tahun pajak, tarif kembali ke 22% untuk seluruh tahun tersebut.
Contoh: Omzet Rp10 M, PKP Rp800 juta → PKP Fasilitas Rp384 juta (×11% = Rp42,2 juta) + PKP Non-Fas Rp416 juta (×22% = Rp91,5 juta) = PPh Rp133,7 juta (hemat Rp42,2 juta vs tarif penuh).
- Tarif 0,5% dari peredaran bruto (omzet), bukan dari laba
- Berlaku untuk koperasi, CV, firma, dan PT yang memenuhi syarat (omzet ≤ Rp4,8 M/tahun)
- Batas waktu: 4 tahun (koperasi/CV/firma), 3 tahun (PT) sejak terdaftar — setelah itu wajib tarif normal
- Setor paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya; tidak perlu rekonsiliasi fiskal
- WP dapat memilih keluar dari PPh Final dan beralih ke tarif normal jika lebih menguntungkan
BUT adalah representasi badan asing yang beroperasi di Indonesia. Dikenai pajak berlapis:
| Jenis Usaha | Kualifikasi/Syarat | Tarif | Dasar Hukum |
|---|---|---|---|
| Jasa Konstruksi | Kualifikasi kecil | 1,75% | PP 9/2022 |
| Jasa Konstruksi | Kualifikasi menengah | 2,65% | PP 9/2022 |
| Jasa Konstruksi | Kualifikasi besar | 3,5% | PP 9/2022 |
| Konsultansi Konstruksi | Kualifikasi kecil | 2,65% | PP 9/2022 |
| Konsultansi Konstruksi | Kualifikasi besar | 4% | PP 9/2022 |
| Konstruksi tanpa sertifikasi | – | 4% / 6% | PP 9/2022 |
| Properti (rumah sederhana/rusunami) | Omzet memenuhi syarat | 1% | PP 34/2016 |
| Properti lainnya (rumah, ruko, apartemen) | – | 2,5% | PP 34/2016 |
| Tanah dan kavling | – | 2,5% | PP 34/2016 |
| Pelayaran dalam negeri | – | 1,2% | KMK 416/1996 |
| Pelayaran/penerbangan luar negeri | – | 2,64% | KMK 417/1996 |
Koreksi positif menambah penghasilan kena pajak karena biaya tidak memenuhi syarat deductible:
- Biaya entertainment/representasi tanpa daftar nominatif
- Natura dan kenikmatan yang tidak diperbolehkan (perumahan, kendaraan pribadi)
- Sanksi administrasi dan pidana perpajakan (Pasal 9 ayat 1 huruf k)
- Sumbangan yang tidak diatur PMK 76/2011
- Penyusutan melebihi ketentuan fiskal (kelompok aset dan tarif)
- Biaya tidak berkaitan dengan 3M: mendapatkan, menagih, memelihara penghasilan
- Biaya bunga atas utang afiliasi LN yang melebihi DER 4:1
- Cadangan/provisi (kecuali bank, SGU, asuransi)
- Gaji anggota persekutuan aktif (CV/Firma)
- Kerugian aset tidak berkaitan dengan kegiatan usaha
- Dividen dari anak perusahaan DN dengan kepemilikan ≥25% (Pasal 4 ayat 3 huruf f)
- Penghasilan yang sudah dikenai PPh Final (bunga deposito, sewa gedung, konstruksi, dll.)
- Selisih penilaian aktiva tetap yang belum direalisasi
- Penghasilan bukan objek PPh lainnya (iuran, bantuan, sumbangan tertentu)
| Kelompok | Contoh Aset | Masa Manfaat | GLS | SM |
|---|---|---|---|---|
| Kelompok I | Komputer, HP, alat pertanian | 4 tahun | 25% | 50% |
| Kelompok II | Mobil, mesin, peralatan | 8 tahun | 12,5% | 25% |
| Kelompok III | Mesin industri berat | 16 tahun | 6,25% | 12,5% |
| Kelompok IV | Konstruksi baja, kapal | 20 tahun | 5% | 10% |
| Bangunan Permanen | Gedung, pabrik | 20 tahun | 5% | — |
| Bangunan Tidak Permanen | Bangunan semi-permanen | 10 tahun | 10% | — |
GLS = Garis Lurus · SM = Saldo Menurun. WP memilih metode di awal dan tidak dapat mengubahnya.
• SPT tahun kerugian harus dilaporkan tepat waktu — jika terlambat, hak kompensasi GUGUR
• Kerugian dari luar negeri tidak dapat dikompensasikan dengan penghasilan dalam negeri
- PPh 22: dipungut saat impor, transaksi dengan bendahara pemerintah
- PPh 23: dipotong atas dividen (kepemilikan <25%), bunga, royalti, jasa
- PPh 24: pajak LN — dibatasi proporsional terhadap PPh Indonesia atas penghasilan LN
- PPh 25: angsuran bulanan yang dibayar sendiri
Coretax (PSIAP — Pembaruan Sistem Inti Administrasi Perpajakan) adalah sistem perpajakan digital terpadu DJP yang diluncurkan bertahap mulai 1 Januari 2025. Coretax menggantikan sistem lama: SIPMOD, DJP Online, e-SPT, dan e-Nofa.
| Aspek | Sebelum Coretax | Dengan Coretax |
|---|---|---|
| Pelaporan SPT | e-SPT offline → upload CSV | Langsung online, data prepopulated |
| e-Faktur | Aplikasi terpisah, upload batch | Real-time, terintegrasi PPN |
| Bukti Potong | Manual, rekap terpisah | e-Bupot otomatis ke akun penerima |
| Pembayaran | e-Billing terpisah | Billing otomatis dari tagihan sistem |
| Keberatan/Permohonan | Tatap muka atau pos | Case Management digital |
| Kredit Pajak | Rekonsiliasi manual | Tax Account otomatis terupdate |
- Pastikan data pengurus (NIK, email aktif, nomor HP) sudah diperbarui di DJP
- Update profil WP di Coretax: alamat, kode KLU, data pemegang saham
- Aktifkan akun Coretax dan verifikasi akses pengurus
- Daftarkan konsultan/kuasa pajak dan atur level otorisasi akses
- Migrasikan alur kerja e-Faktur ke sistem Coretax atau PJAP terintegrasi
- Sosialisasikan kepada tim finance/akuntansi mengenai alur kerja baru
- Pastikan sistem ERP/akuntansi sudah terkoneksi via API dengan Coretax (jika menggunakan PJAP)
- Cek saldo Tax Account: kredit pajak yang masuk dan utang pajak yang ada
WP Badan dengan volume transaksi besar dapat menggunakan Perusahaan Jasa Aplikasi Perpajakan (PJAP) resmi mitra DJP yang terkoneksi dengan API Coretax. Keunggulannya: e-Filing, e-Billing, e-Faktur, dan e-Bupot dapat dilakukan dalam jumlah besar secara otomatis, terintegrasi dengan sistem ERP/akuntansi perusahaan.
| Formulir | Isi / Keterangan |
|---|---|
| 1771 (Induk) | Identitas WP, ringkasan PKP, PPh terutang, kredit pajak, PPh 29/28A, tanda tangan |
| Lampiran I (1771-I) | Penghitungan Penghasilan Neto Fiskal — rekonsiliasi komersial ke fiskal, koreksi fiskal +/− |
| Lampiran II (1771-II) | Rincian HPP, biaya usaha, dan biaya luar usaha secara terperinci |
| Lampiran III (1771-III) | Kredit pajak dalam negeri (PPh 22/23) dan luar negeri (PPh 24) |
| Lampiran IV (1771-IV) | PPh Final dan penghasilan bukan objek PPh (bunga deposito, sewa, konstruksi, dll.) |
| Lampiran V (1771-V) | Daftar pemegang saham (nama, NPWP, % kepemilikan) dan pengurus (direksi & komisaris) |
| Lampiran VI (1771-VI) | Daftar penyertaan modal pada badan lain dan transaksi utang-piutang afiliasi |
| Dokumen Wajib Lampiran | Laporan keuangan (neraca + L/R), rekonsiliasi fiskal, daftar aset tetap, SSP PPh 29 |
Setelah SPT selesai dihitung, sistem Coretax otomatis membuat tagihan PPh 29. Buat kode billing 15 digit dari menu Pembayaran → Buat Kode Billing. Bayar melalui bank persepsi, ATM, atau mobile banking. Status pembayaran otomatis terupdate di Tax Account.
| SPT Masa | Keterangan | Batas Setor | Batas Lapor |
|---|---|---|---|
| PPh Pasal 25 | Angsuran bulanan PPh Badan | Tgl 15 | Tgl 20 |
| PPh Pasal 23 | Pemotongan jasa, dividen, royalti | Tgl 10 | Tgl 20 |
| PPh Pasal 22 | Pemotongan impor, bendahara | Tgl 10 | Tgl 20 |
| PPh Final Ps. 4(2) | Sewa, konstruksi, UMKM | Tgl 15 | Tgl 20 |
| PPh Pasal 21 | Pemotongan gaji karyawan | Tgl 10 | Tgl 20 |
| PPN 1111 | Pelaporan Faktur Pajak | Akhir bulan | Akhir bulan berikutnya |
| Jenis WP Badan | Tarif | SPT | PPh 25 | Catatan Khusus |
|---|---|---|---|---|
| PT / CV / Firma / Koperasi | 22% | 1771 | Wajib | Tarif umum, tarif normal |
| PT Tbk (≥40% di bursa) | 19% | 1771 | Wajib | Buktikan kepemilikan publik ke DJP |
| UMKM Ps. 31E (omzet ≤50 M) | 11%/22% | 1771 | Wajib | Split tarif proporsional Rp4,8 M |
| UMKM PPh Final (omzet ≤4,8 M) | 0,5% | 1771 | Tidak | Setor bulanan dari omzet; batas waktu pakai |
| BUT (Bentuk Usaha Tetap) | 22%+BPT | 1771 | Wajib | BPT 20% atas laba; P3B dapat mengurangi |
| Jasa Konstruksi (berbagai kualifikasi) | 1,75–6% | 1771 | Dari non-final | PP 9/2022 · Final atas nilai kontrak |
| Developer / Real Estate | 1–2,5% | 1771 | Dari non-final | PP 34/2016 · Final atas nilai jual |
| Pelayaran Dalam Negeri | 1,2% | 1771 | Tidak (full final) | KMK 416/1996 · Final dari omzet |
| Pelayaran/Penerbangan LN | 2,64% | 1771 | Tidak | KMK 417/1996 |
| Holding / Investasi Murni | 22% | 1771 | Kemungkinan nihil | Dividen anak perusahaan ≥25% = non-objek |
| Yayasan Pendidikan/Sosial | 22%* | 1771 | Tergantung | Sisa lebih tertentu dikecualikan (Ps. 4 ay. 3 huruf m) |
| Industri Pionir (Tax Holiday) | 0%* | 1771 | Nihil selama holiday | PP 78/2019 · Pembebasan s.d. 20 tahun |
+ Koreksi positif Rp 200.000.000
– Koreksi negatif Rp 250.000.000
= Neto fiskal Rp 2.950.000.000
– Kompensasi kerugian Rp 150.000.000
= PKP Rp 2.800.000.000
× 22% Rp 616.000.000
– Kredit PPh 23 Rp 180.000.000
– Angsuran PPh 25 Rp 300.000.000
= PPh 29 (Kurang Bayar) Rp 136.000.000
Klikpajak dari Mekari
Platform perpajakan all-in-one terpercaya untuk WP Badan Indonesia — terintegrasi Coretax DJP
Setelah memahami seluruh mekanisme PPh Badan — dari koreksi fiskal, pelaporan SPT 1771, hingga integrasi Coretax — pertanyaan berikutnya adalah: platform apa yang paling efisien untuk mengelola semua kewajiban itu?
Klikpajak dari Mekari adalah salah satu Perusahaan Jasa Aplikasi Perpajakan (PJAP) berlisensi resmi DJP yang paling banyak digunakan perusahaan Indonesia. Sebagai PJAP, Klikpajak terhubung langsung dengan API Coretax DJP — artinya semua kewajiban PPh Badan dapat dikelola dari satu platform tanpa berpindah-pindah sistem.
* Kalkulatorpajak.id berpartisipasi dalam program afiliasi Klikpajak. Jika Anda mendaftar melalui tautan di atas, kami mungkin menerima komisi tanpa biaya tambahan bagi Anda. Rekomendasi ini didasarkan pada penilaian independen tim kami.